MPR RI

Hidayat Nur Wahid: Contoh keterampilan belajar etnis ayah

TRIBUNNEWS.COM-Kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia adalah hasil dari perjuangan antara orang tua negara dan orang-orang terpelajar yang menentang BPUPKI dan PPKI. Mereka menerima pendidikan formal dan non-formal di luar negeri dan di rumah, termasuk sekolah agama di luar negeri dan di rumah.

“Indonesia adalah hasil dari perjuangan orang-orang yang berpendidikan khusus. Dengan kata lain, Indonesia dibebaskan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi. Pada tahun 1945, orang tua negara semuanya adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi,” wakil MPR Presiden Hidayat Nur Wahid selama kunjungan siswa SMAN 28 Jakarta ke Gedung Nusantara V di Gedung Parlemen Jakarta (Senin, 3 Februari 2020) / anggota MPR Hj Andi Yuliani Paris dan ayah dari Direktur Hubungan Masyarakat MPR RI Siti Fauziah, di antara mereka Termasuk Moh Hatta, seorang ekonom yang belajar di Belanda, dan banyak ahli hukum dari Belanda, seperti Moh Yamin. Di seluruh negeri, sarjana seperti Soekarno (Ir. Soekarno).

Hidayat juga menyebut Agus Salim, bapak negara. Dia tidak belajar di sekolah biasa. Dia fasih dalam delapan bahasa asing. Agus Salim membela Indonesia dalam diplomasi internasional, “katanya.

Baca: Kediaman anak ibu Debord terinfeksi Coronavirus, dan penduduk melanjutkan seperti biasa- — Selain itu, Hidayat melanjutkan dengan mengatakan bahwa di antara kelompok etnis Kea, ayah dari satu kelompok etnis menerima pendidikan agama (sekolah) dari KH Kahar Muzakir di Mesir. Ada juga sekolah asrama Islam seperti KH Wahid Hasjim dan Ki Bagus Hadikusumo. Orang-orang yang belajar, berpendidikan dan sukses adalah mutlak. Jangan biarkan kualitas penelitian kami yang mencapai kemandirian ini lebih rendah daripada orang tua di negara ini. Mereka dulu memiliki Indonesia yang mandiri, jadi kami membutuhkan lebih banyak kekuatan daripada mereka untuk membangun lebih banyak Indonesia Hebat, “katanya. Indonesia membutuhkan berbagai keterampilan, termasuk parlemen. Dewan membutuhkan semua keterampilan ini. Berbagai keahlian. “Karena Parlemen adalah lembaga pengawasan pemerintah yang juga membidangi urusan internal, diplomasi, hukum, pertanian, transportasi, kesehatan, pendidikan, agama, ekonomi, dll. Karena itulah kita membutuhkan tenaga ahli di berbagai bidang,” jelasnya. Kongres membutuhkan sumber daya manusia yang beragam. MPR juga mirip dengan Konstitusi dan merupakan tolok ukur yang mengatur kehidupan nasional dan negara. Untuk menjadi anggota MPR, pengetahuan profesional yang beragam juga diperlukan. Dia menambahkan bahwa ketika berbicara tentang Indonesia di MPR, kami juga berbicara tentang berbagai keterampilan.

Dalam pengantar, Siti Fauziah, kepala Kantor Hubungan Masyarakat MPR, meminta para siswa untuk mengambil keuntungan dari pertemuan dengan Wakil Presiden MPR Hidayat Nur Wahid. “Ini adalah kesempatan berharga untuk bertemu langsung dengan Wakil Presiden MPR Hidayat Nur Wahid. Siswa dapat mendengar langsung dan langsung bertanya kepada peserta sejarah MPR. Oleh karena itu, pertemuan ini harus digunakan sebanyak mungkin untuk mendapatkan pengetahuan yang berguna,” katanya .

Guru WSAN 28 Eliza dari Jaizata mengungkapkan bahwa ada 250 siswa dan 10 asisten di tahun ke-10 dan ke-37 OSIS. Mengunjungi Parlemen adalah acara tahunan OSIS, yang bertujuan untuk mendapatkan pengalaman langsung dari Parlemen. “

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *